Home / Artikel Baru / Mulih Mula Mulanira

Mulih Mula Mulanira

 

Orang Jawa memandang bahwa, semua yang ada di alam raya ini adalah ciptaan Tuhan. Meskipun demikian, alam pemikiran Jawa yang pada dasarnya terbuka dan tidak dogmatis. Mengartikan penciptaan itu haruslah tidak bertentangan dengan hukum-hukum ilmu pengetahuan yang berlaku, terutama hukum sebab akibat. Ini adalah konsekwensi logis dari tantularisme yang meyakini bahwa kebenaran adalah tunggal. Tan hana dharma mangrwa.

Jadi pandangan Jawa memang meyakini bahwa seluruh alam raya ini adalah ciptaan Tuhan, tetapi penciptaan itu berlangsung menurut kaidah umum yang berlaku di alam semesta itu, yang berlangsung perlahan-lahan dalam kurun waktu yang amat panjang. Dengan kata lain, penciptaan itu berlangsung secara evolusioner. Berlangsung menurut proses evolusi. Dan ini berlangsung terus-menerus sampai sekarang dan sampai kapanpun juga.

Di dalam Bhagavad Gita, yang merupakan inti sari dari ajaran kitab suci Veda, Svayam Bhagavan Sri Krsna menyatakan”aham bija prada pita” ”aku adalah benih dari semua makhluk hidup”. Karena kita berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, maka semua perbedaan yang kita lihat hendaknya dijadikan suatu keindahan yang berperan sebagai bumbu kehidupan. Seperti yang disebutkan di atas Kitab Suta Soma menyatakan” Bhineka Tungal Ika Tan Hanna Dharma Mangruha” meskipun berbeda, namun dharma adalah satu dan tidak ada duanya. Tanpa kita mengarahkan pemikiran kita seperti itu, maka semua perbedaan yang ada hanya akan merupakan suatu rintangan di dalam kehidupan, yang bisa menyebabkan perpecahan diantara kita semua yang hidup di berbagai pelosok dunia.

Dalam konsep Hindu proses penciptaan alam semesta terdapat dalam Kitab Siva Purana. Dalam kitab Siva Purana dinyatakan bahwa pada awal penciptaan alam semesta masih kosong hanya terdapat Brahman (Esensi ilahi) yang bersifat nirguna menyebar dimana-mana. Kemudian air memenuhi semesta Visnu dalam wujud Narayana tidur dilautan maha luas lalu muncullah sekuntum teratai dari pusar beliau dan lahirlah Brahma dari teratai itu. Brahma yang bingung akan keberadaan dirinya dan semesta yang masih kosong menjelajahi tangkai teratai itu namun beliau tidak menemukan sel itu hingga akhirnya menyerah. Suara gaib memerintahkan beliau untuk bermeditasi. Setelah 12 tahun berlalu Visnu yang bertangan empat menampakkan diri dan menyebut Brahma dengan “Nak”. Brahma tidak mengenali Visnu dan Visnu menjelaskan bahwa Brahma tercipta dari tubuh beliau. Brahma tidak puas mendengar hal itu dan bertarung melawan Visnu. Lalu muncullah sebuah linga ( wujud Siva) diantara mereka. Karena heran Brahma dengan wujud angsa menelususri puncak linga sedangkan Visnu dengan wujud babi hutan menelusuri dasarnya. Mereka mencari hingga 4000 tahun, namun tidak berhasil menemukan ujung pangkalnya. Mereka lalu berdoa ditempat semula dan setelah 100 tahun terdengarlah suara suci “OM” dilantunkan, seiring munculnya Siva dengan lima kepala dan sepuluh tangan. Visnu menanyakan tentang keberadaan Siva dan Siva menjelaskan bahwa mereka bertiga merupakan satu kesatuan yang dibagi menjadi tiga. Brahma sebagai pencipta, Visnu pemelihara dan Siva sendiri penghancur, Rudra adalah mahluk yang akan muncul dari tubuh Siva tapi Siva dan Rudra adalah satu. Maka Brahma ditugasi untuk mencipta dan Sivapun menghilang. Brahma dan Visnu kembali ke wujud asalnya.

Ungkapan “mulih mula mulanira” jelas menggambarkan keyakinan ini, yaitu bahwa semua yang ada di dunia ini mesti pulang ke asal mulanya, yaitu Tuhan Sang Maha Pencipta. Hidup di dunia ini, yang alam pemikiran Jawa disebut “alam madya” (alam tengah), yang diibaratkan sebagai “mampir ngombe“, singgah sebentar untuk minum. Pendirian semacam ini adalah konsekwensi logis dari keyakinan yang lebih mendasar, yaitu bahwa manusia dan semua makhluk ciptaan Tuhan itu terdiri dari dua dimensi utama. Yaitu dimensi jasmani dan dimensi rohani.

Jasmani atau raga adalah bersifat sementara. Ia bisa lahir, tumbuh, berkembang dan musnah. Roh atau atman adalah abadi. Ia selalu dan tetap ada dalam alam keabadian, yang dalam keyakinan Jawa terdiri dari alam purwa (sebelum lahir), alam madya atau madyapada, yaitu dunia kita sekarang ini dan alam wasana (setelah kematian raga).

Dibanding dengan alam keabadian yang tidak mengenal awal dan akhir, maka hidup di dunia ini memang amat singkat. Itulah sebabnya orang Jawa mengibaratkannya hanya sebagai persinggahan sebentar untuk minum. Dalam ungkapan Jawa: “prasasat mung mampir ngombe“. Apa yang dilakukan manusia dalam persinggahan singkat di dunia yang fana ini menentukan nasib dan arah perjalanan selanjutnya. Hukum inilah yang dalam ungkapan Jawa disebut hukum “Ngundhuh wohing pakarti“. Secara populer sering pula disebut sebagai hukum “karma“. Setiap orang akan memetik buah sesuai dengan apa yang ditanamnya.

Moralitas Jawa menghendaki agar setiap orang senantiasa melaksanakan kewajiban yang diberikan kepadanya oleh Sang Pencipta. Kewajiban itu adalah sederhana saja, yaitu hidup yang baik dan benar. Dalam pandangan Jawa, kewajiban itu dirumuskan dalam ungkapan “mamayu hayuning bawana“. Yang artinya memelihara kebaikan dunia. Kewajiban ini hanya akan terlaksana bila dilandasi rasa “asih ing sasami” (cinta kasih kepada sesama, serta dengan semangat “sepi ing pamrih rame ing gawe” (giat bekerja tanpa mementingkan diri-sendiri). Ini adalah batu ujian manusia dalam menentukan hari depannya.

Sejajar dengan keyakinan para pemikir besar dari segala bangsa dan agama, seperti Charles Darwin, Pierre Teillhard de Chardin, S.Radhakrishnan, Krishnamurti, Sayta Sai Baba, Madjid Ali Khan dan lain-lain, pemikiran Jawa pun pada dasarnya mengakui adanya proses evolusi semesta yang terus berlangsung dan melanda semua ciptaan Tuhan di dalamnya, termasuk pula manusia.

Jadi, manusia pun terus-menerus berevolusi. Dan mirip sekali dengan gambaran Teilhard de Chardin tentang akhir dan evolusi manusia yang disebutnya sebagai titik omega, yang diyakininya sebagai Kristus dalam manusia. Maka dalam pemikiran Jawa, puncak dari evolusi manusia itu berupa manusia sempurna, yang dalam pemikiran Jawa dikenal adanya beberapa istilah seperti: Manungsa Utama, Manungsa Binangun, Jalma Pinilih, dan lain sebagainya

Tataran puncak seperti itu akan tercapai oleh siapa saja yang dengan kesadaran penuh telah dapat menyatukan dirinya dengan Sang Maha Pencipta. Apabila ia berhasil menyatukan jagad cilik (mikrokosmos-bhuwana alit) dengan jagad gedhe (makro kosmos-bhuwana agung). Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : Pertama, Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII, sloka 6. Kedua, Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama. Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya, tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.

Panca Mahabhuta sebagai penyusun alam semesta (Buana Agung) bersumber dari dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). Cetana berkedudukan di atas, berwujud kesadaran tertinggi dan Acetana berkedudukan di bawah berwujud maya (lupa). Azas yang di atas dapat masuk menyusupi dan melingkupi azas yang di bawah. Pertemuan Cetana dan Acetana menciptakan Purusa dan Pradana yang merupakan sumber roh dan materi. Pertemuan purusa dan Pradana menghasilkan (menciptakan) Citta Guna. Citta merupakan perwujudan dan Purusa dan Guna perwujudan dan Pradana, Guna sebagai sifat Citta dan tiga yaitu : satwan, rajas dan tarnas. Akibat ketertarikan Citta pada Guna maka terciptalah Buddhi. Buddhi demikian banyaknya dalan rupa yang beraneka sifatnya seperti Catur Aiswarya, Astuti, Asthasiddhi, kebalikan Catur Aiswarya dan Panca Wretaya Citta yang begitu lekat dengan sifatnya maka terbentuklah Ahengkara. Ahengkara yang merupakan ego atau kekuatan bertemu bertemu dengan gunanya (Tri Guna) maka menjadi tiga yaitu Si Wekreta, Si Tejasa dan Si Bhutadi.

Si Bhutadi yaitu merupakan pertemuan buddhi dengan tamah dapat menciptakan Panca Tan Matra. Dari Panca Tan Matra melahirkan Panca Mahabhuta. Panca Mahabuta yaitu akasa, bayu, teja, apah dan perthiwi merupakan lima anasir dasar yang dijadikan penyusun alam semesta ini, keberadaannya berstruktur dan yang paling atas yaitu akasa paling halus makin bawah yaitu bayu, teja, apah semakin kasar dan perthiwi yang paling di bawah paling kasar.

Demikian alam semesta ini disusun dan lima anasir dasar Panca Mahabhuta, tetapi yang paling dominan adalah perthiwi sehingga batu itu padat, air juga demikian yang paling dominan anasir dasar Panca Mahabhuta adalah apah, matahari anasir Panca Mahabhuta yang dominan adalah teja, udara anasir Panca Mahabhuta yang dominan adalah akasa dan bayu dan sebagainya. Kandungan akasa yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk ruang, menyebar. Kandungan bayu yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk gerak atau benda bergerak. kandungan apah yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk benda padat. Kandungan yang dominan itu bisa lebih dan satu anasir Mahabhuta dalam suatu benda atau isi alam, misalnya kandungan apah dan prethiwi yang dominan menyebabkan keberadaan dalam bentuk padat cair (kental). Demikian keberadaan beraneka ragam isi alam ini ditentukan oleh kandungan yang berbeda-beda dan anasir Panca Mahabhuta.

Panca Mahabhuta sebagai anasir dasar penyusun alam semesta atau Buana azas Agung diciptakan oleh causa prima (Tuhan Yang Maha Esa) melalui proses penciptaan yang merupakan pertemuan antara dua azas yaitu azas kesadaran dengan maya yang bertingkat dan atas ke bawah yang berperan menetukan keberadaan alam semesta bèserta isinya.

Keadaan itulah yang disebut manunggaling kawula kalawan Gusti. Dalam pamikiran Jawa, tingkatan seperti itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Setiap orang bisa mencapainya, asal ia percaya dan berusaha dengan sungguh-sungguh (Penulis adalah Dosen STAH Lampung, tinggal di Pringsewu Lampung).

 
 
 
:)