Home / Artikel Baru / Cinta dan Pergaulan Remaja

Cinta dan Pergaulan Remaja

 

Teguh Samiadi (Dosen Stah Lampung) : Menjawab kegalauan Aris Biantoro mantan Ketua BEM STAH Lampung yang termuat dalam MH No. 104 yang lalu dapatlah dimengerti karena pergaulan remaja khususnya mahasiswa secara umum sudah mengarah pada bentuk pergaulan yang sangat bebas tanpa batas. Kita tentu tahu bahwa pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, yang mana “bebas” yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Apalagi kita yang beragama Hindu pastilah menjunjung tinggi etika sebagai salah satu kerangka dasar ajaran agama Hindu. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di lingkungan di sekeliling kita maupun dari media massa.
Perlu diketahui bahwa remaja tergolong sebagai individu labil yang emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah keluarga, kekecewaan, pengetahuan yang minim, dan ajakan teman-teman yang bergaul bebas membuat makin berkurangnya potensi generasi muda dalam kemajuan bangsa.

Penyebab terjadinya Pergaulan Bebas

Salah satu analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa banyak penyebab remaja melakukan pergaulan bebas. Penyebab tiap remaja pastilah berbeda satu dengan yang lainnya, namun semuanya berakar dari penyebab utama yaitu kurangnya pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan atau agama dan ketidakstabilan emosi remaja. Hal tersebut menyebabkan perilaku yang tidak terkendali. Berikut ini antara lain penyebab maraknya pergaulan bebas remaja secara umum :

Pertama,sikap mental yang tidak sehat.Sikap mental yang tidak sehat didasari oleh lemahnya pemahaman remaja akan pergaulan yang sebenarnya yang pada akhirnya terjerumus oleh pergaulan yang tidak sepantasnya. Hal ini disebabkan oleh tidak stabilnya emosi remaja dalam masa transisi dari masa remaja menuju alam kedewasaan. Ketidakstabilan emosi disebabkan oleh pembentukan kepribadian yang tidak sewajarnya dikarenakan tindakan keluarga ataupun orang tua yang menolak, acuh tak acuh, menghukum, atau memaksakan kehendak, dan mengajarkan yang salah tanpa dibekali dasar keimanan dan etika agama yang kuat bagi anak. Kedua, pelampiasan rasa kecewa.Ketika seorang remaja mengalami tekanan dikarenakan kekecewaannya terhadap orang tua yang bersifat otoriter ataupun terlalu membebaskan, sekolah atau kuliah yang memberikan tekanan terus menerus(baik dari segi prestasi atau tugas-tugas yang menumpuk), lingkungan masyarakat yang tidak sehat dalam aktifitas sosialnya, menyebabkan remaja sangat labil dalam mengatur emosi, dan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif di sekelilingnya, terutama pergaulan bebas. Ketiga, kegagalan remaja menyerap norma. Hal ini disebabkan karena norma-norma yang ada sudah tergeser oleh modernisasi.

Solusi untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan Bebas.

Kita semua mengetahui peningkatan Sraddha dan Bhakti kepada Brahman, dan penyaluran minat serta bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setiap orang mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi kata-kata tersebut merupakan kata-kata “klise” yang menunjukkan sikap masa bodoh dan jalan pintas solusi yang menyebabkan masih saja banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Selain daripada solusi di atas masih banyak solusi lainnya. Memang solusi yang ditawarkan disini belumlah cukup menjawab permasalahan yang ada. Namun sedikit banyak dapat memberikan permasalahan tersebut. Solusi-solusi tersebut antara lain ; pertama, memperbaiki cara pandang remaja dengan ajakan untuk mencoba dan mengajari sikap optimis dan hidup dalam “kenyataan”, yang ada yang berasal dari pendidikan sejak dini dari orang tua agar tidak mempunyai angan dan cita-cita yang tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga tidak menimbulkan kekecewaan bagi. Kedua, menjaga keseimbangan pola hidup. Remaja belajar disiplin dengan mengatur waktu, emosi, energi serta pikiran dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam kegiatan sehari-hari serta mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif. Ketiga, jujur pada diri sendiri. Yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi yang terbaik untuk diri masing-masing. Sehingga pergaulan bebas tersebut dapat dihindari. Jadi dengan ini remaja tidak menganiaya emosi dan diri mereka sendiri. Keempat, memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain khususnya dengan orang tua sehingga terbina hubungan baik dengan keluarga dan masyarakat, untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif dapat kita mulai dengan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekeliling kita. Kelima, perlunya remaja berpikir untuk masa depan. Sangat jarang kita dengar remaja telah merancang atau memiliki bayangan yang jelas akan masa depannya sendiri. Seandainya tiap remaja mampu menanamkan pertanyaan “Apa yang akan terjadi pada diri saya nanti jika saya lalai dalam menyusun langkah untuk menjadi individu yang lebih baik?” kemudian hal itu diiringi dengan tindakan-tindakan positif untuk kemajuan diri para remaja. Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang untuk melakukan hal-hal menyimpang. Peran orang tua pun sangat penting dalam mendorong remaja untuk menentukan masa depannya sendiri sesuai dengan keinginan dan kemampuannya, tanpa campur tangan yang berlebih-lebihan untuk menghindari remaja dari tekanan. Dengan demikian remaja akan menjadi lebih matang dan siap dalam menghadapi tantangan kehidupannya. Selain usaha dari diri masing-masing sebenarnya pergaulan bebas dapat dikurangi apabila setiap orang tua dan anggota masyarakat ikut berperan aktif untuk memberikan motivasi positif dan memberikan sarana & prasarana yang dibutuhkan remaja dalam proses keremajaannya sehingga segalanya menjadi bermanfaat dalam kehidupan tiap remaja.

Etika Berpacaran dalam Menghindari Pergaulan Bebas

Disadari bahwa yang menjadi keinginan dan kebutuhan manusia khususnya remaja tidak hanya terbatas pada kebutuhan makan-minum, pakaian saja, dan penampilan saja secara fisisk. Dalam diri manusia secara umum terdapat sesuatu keinginan dan kebutuhan kenikmatan yang bersifat universal. Kebutuhan ini melebihi kebutuhan lainnya, bahkan mengatasi kebutuhan akan kekuasaan, keinginan tersebut merupakan kebutuhan kodrati berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai terhadap lawan jenis khususnya pria dan wanita. Jadi dari keinginan cinta-mencintai timbul istilah “pacaran” makna pacaran yang lebih mendalam adalah mencari “pasangan hidup”.

Proses pacaran maupun mencari pasangan hidup merupakan suatu yang dapat kita katakan sangat sakral, maka kitab suci Veda adalah sebagai sumber dari segala sumber pengetahuan dan ilmu pengetahuan harus dijadikan dasar hukum suatu prilaku manusia khususnya umat Hindu di dunia ini.

Catatan bagi remaja bahwa sebelum memasuki agenda pacaran setiap remaja perlu terlebih dahulu “bergaul secara sehat”di kalangan remaja itu sendiri. Remaja yang tidak pernah bergaul bahkan sama sekali tidak gaul, akan disebut kuper(kurang pergaulan). Anak yang kuper akan segera bisa dikenali di lingkungannya. Karena sikap dan tindak tanduknya sangat aneh dan dapat digolongkan tidak pantas dalam pandangan remaja lainnya. Oleh karenanya sebelum pacaran disarankan kepada remaja untuk bergaullah sedini mungkin. Jadi janganlah ada remaja pria maupun putri yang tidak bergaul. Hanya melalui pergaulan bisa ditemukan seorang “pacar”. Pacaran tidak pernah dilarang. Tidak ada perkawinan yang sukses tanpa melewati masa pacaran. Apakah sebenarnya kita mempunyai “cinta” atau “hanya ketertarikan secara phisik”, atau hanya butuh “pengakuan sosial”, atau “birahi”. Masa pacaran adalah masa mengenali ini semua, antara lain mengenal apa ada bedanya antara “cinta” dan “birahi”. Walaupun cinta dan birahi adalah dua hal yang berbeda, tetapi keduanya tidak bisa dihindarkan. Keduanya akan menghampiri setiap orang, karena sangat alami.

Birahi adalah suatu gejala ketika mulai berfungsinya hormon yang berkaitan dengan seks. Birahiakan tumbuh pada usia akil baligh atau ketika pada diri remaja mulai terjadil perubahan pada bagian-bagian tertentu pada fisiknya. Dan nanti akan mati dengan sendirinya pada usia paruh baya. Ini semua alami, tidak bisa ditolak ataupun dihindarkan, atau diminta. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengenalinya atau menghandle dan mengolahnya sebaik mungkin.

Ajaran Hindu mengenal seksualitas sebagai sesuatu yang mulia, bahkan bukan dosa, bukan laknat maksiat, karena itu adalah asal manusia hadir ke bumi. Tak perlu diuraikan lebih jauh. Lihatlah Lingga dan Yoni adalah simbol penyatuan unsur maskulin dan feminim.

Sedangkan Cinta, berasal dari sumber yang berbeda yaitu dari dada, dari sekitar jantung. Di sana ada sumber energi pembangkit rasa disebut Anahatta Chakra. Kama atau nafsu mempunyai sifat menuntut. Sedangkan cinta sudah bisa memberi. Cinta bisa memberi dan menerima. Kedua hal inilah yang harus dikenali secara baik oleh setiap anak remaja. Cinta dan birahi bisa datang silih berganti dan dialami lebih dari sekali oleh anak remaja. Maka perlu adanya pemahaman bahwa dalam kehidupan bersama setiap orang harus mengatur dirinya bertingkah laku tidak ada seorangpun boleh berbuat sekehendak hatinya, mereka masing-masing harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tunduk pada aturan bertingkah laku yang berlaku umum. Mereka hanya bebas berbuat dalam ikatan aturan tingkah laku yang baik. Peraturan tingkah laku yang baik inilah disebut “Tata Susila”.

Jadi jelas bentuk pengendalian diri dalam pergaulan hidup bersama khususnya pergaulan yang lebih mendalam antara seorang pria dengan wanita yang berpacaran wajib mentaati etika atau tata susila agar tujuan yang ingin dicapai berjalan dengan baik. Petikan sloka-sloka dalam kitab suci Manawadharmasastra, Gautama Smṛti, maupun Kamasutra yang dapat dipedomani dalam rangka berpacaran, diantaranya, yaitu:

1)   ”Vayasaḥ karmano’rthasya śṛutasyabhijanasya ca, vesavag buddhi sārupyaṁ ācāran vicarediha” – Hendaknya ia berjalan di dunia fana ini menyesuaikan pakaianya, kata-kata, dan pikiranya agar ia sesuai dengan umum, kedudukan, kekayaan, pelajaran sucinya, dan juga kebangsaannya. (Gautama Smṛti, IV 18).

2)   Hendaknya bagian yang sensitive dari tubuh ini jangan diperlihatkan, karena itu akan merusak mental dari orang yang melihatnya.” (Kama Sutra.III.12)

3)   ”Janganlah menulis, melagukan bagian tubuh yang sensitif selain untuk pasangannya, karena hal itu dapat merusak jalan darah dan pikiranmu.” (Kama Sutra.XII.9).

4)   Nanjayantiṁ svake netre nā cabhyaktamanavṛtaṁ, nā prayet prasavanti ca tejaśkamo dvijottamaḥ” – Seseorang yang menginginkan keteguhan hati hendaknya tidak memandang wanita yang sedang bersolek, atau yang telah bersolek dengan menelanjangkan badannya, dan juga jangan melihat wanita yang sedang melahirkan. (Manavadharmasastra IV.44).

5)   ”Tengkuk,buah dada, paha, dan betis wanita adalah kekuatannya ; sinar auranya akan hilang apabila diperlihatkan pada laki-laki di saat malam hari”.(Kama Sutra. VIII.7).

6)   ”Upetya sṇātako vidvanneksenna gṇaṁ para ṣṭriyam sa rahasyaṁ ca samvadam para ṣṭrism vivarjayet.” – Bila ingin memiliki keteguhan hati dan kemasyuran janganlah menggauli wanita selain istri sendiri. Jangan bersenda gurau cabul dan menyentuh bagian rahasia dari isteri orang lain. Jauhilah perbuatan itu. ( Gautama Smṛti.IX.32).

7)   ”Wanita mempunyai nafsu birahi yang mengalir. Janganlah mendekati wanita yang dengan sengaja pemperlihatkan bagian belakang (leher dan punggungnya) seperti ular kobra. Dia akan mematukmu dengan racun seks.” (Kama Sutra. XLVII. 8)

8)   ”Patiṁ ya na bhicarati māṇo vagdena sangyati sa bhartṛlokaṁ apnoti sadbhiḥ sadviticocyate.” -Mereka yang selalu mengendalikan pikiran perkataan,dan tubuhnya tidak menyalahgunakan kehormatanya, akan mendapat tempat mulia, dan dialah disebut budiman/sadhu (Manavadharmasastra.XI.29).

Ketentuan hukum dalam Hindu yang berkaitan dengan pacaran antara lain disebutkan di dalam kitab Manavadharmasastra dan Parasara Dharmasastra.

1)   “Paraṣṭriyam yo bhivadettir ihe ranye vanepi va, nadinam vapi sambhede sa saṁgrahanamāpnuyar”– Ia yang bergurau cabul dengan wanita lain di tempat suci (Tirtha), di tempat sunyi (hutan), di pertemuan dua sungai (tempat mandi) diancam dengan ancaman hukuman karena sangrahana. (Manavadharmasastra VII.356).

2)   “Upācarakriya kelih, sparco bhusaṇa vasasan, saha khatvasanaṁ caiva sarvam saṁgrahanam smṛiam.” – Memberikan sesuatu yang merangsang wanita lain, bercanda cabul denganya, memegang busana dan hiasannya, serta duduk di tempat tidur dengannya adalah perbuatan yang (hukumnya) harus dianggap sama dengan berzinah. (Manavadharmasastra. VIII.357).

3)   Ṣṭriyam sprceda dece yah sprsto va marsayettaya parasparasyanumate sarvam saṁgrahanam smṛtam” – Bila seseorang menyentuh wanita lain pada bagian yang terlarang, atau membiarkan menyentuh bagian itu, walaupun semua perbuatan itu dilakukan dengan persetujuan bersama, haruslah dianggap berzinah. (Manavadharmasastra. VIII.358)

4)   “Setelah menggauli (berbuat cabul) dengan wanita pelacur atau wanita jalang setiap orang dari semua Varna harus melaksanakan penebusan dosa prapatyam dan membayar denda atau sedekah dan berpuasa.” (Parasara Dharmasastra. X.5-9)

5)   “Bila seseorang laki-laki dengan maksud menghina mencemari wanita dengan kekerasan, maka dua jari tangannya dipotong segera dan didenda sebesar enam ratus pana.” (Manavadharmasastra. VIII.367).

Disadari bahwa manusia telah memiliki kama atau keinginan (nafsu) sejak dilahirkan ke dunia, dalam perkembangan kehidupan manusia secara normal akan berkembang secara bertahap salah satu indriya (keinginan) yang lebih menonjol. Maka pada masa remaja akan timbul keinginan pria dan wanita sebagai lawan jenis untuk saling mencintai, dalam proses ini seperti pada tulisan di atas disebut dengan masa berpacaran. Dalam kitab suci Rgveda X.27.12, dinyatakan pula bahwa :

“Kiyāti yoṣa maryanto vadhuyoḥ, Pariprita panyasa varyena, Bhadra vadhur bhavāti yat supeṣaḥ, Svayam sa mitraṁ vanute jane cit”

Artinya:

Terdapat banyak yang tertarik oleh kebaikan yang unggul (pria) dari beberapa orang yang hendak mengawini mereka. Seorang gadis menjadi kekasih yang beruntung yang memilih seorang teman (pria) bagi dirinya diantara para peminang.

Menyimak uraian maupun mantra Rgveda tersebut sumber kitab suci yang mengarahkan proses terjadinya pacaran adalah dari kodrat, perkembangan phisik maupun jiwa seseorang yang memang patut terjadi pada seorang pria maupun wanita. Dalam proses pacaran untuk mencari pasangan hidup yang sejati seorang gadis maupun pria agar pandai dalam memilih calon istri maupun calon suami. Hendaknya mampu memilih yang tepat (memiliki kebaikan hati yang tulus, berbudhi pekerti luhur, memiliki wawasan keilmuan), memilih bibit, bebet, dan bobot.

Posisi remaja dalam ajaran Agama Hindu menempati tahapan yang cukup penting. Hal ini dapat kita lihat dalam Sarasamuccaya 27, yaitu:

“Matangnya deyaning wwang, pengponganikang kayowanan, panedeng ning awak, sadhenakena ri karjaning dharma, artha, jnana, kunang apan tan pada kasaktining atuha lawan rare, drstanta nahan yang alalang atuha, telas rumepa, marin alandep ika”.

Artinya :

Karenanya perilaku seseorang, hendaklah digunakan sebaik- baiknya masa muda, sebagai badan sedang kuatnya, hendaklah di pergunakan untuk usaha menuntut dharma, artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orangtua dengan kekuatan anak muda; contohnya ialah seperti ilalang yang telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya itu tidak tajam lagi (Kadjeng dkk, 1997: 23-24)

Remaja memiliki potensi besar untuk didayagunakan dalam rangka menggali ajaran–ajaran kebenaran atau dharma, mencari bekal masa depan berupa harta dan ilmu pengetahuan agar mudah menapak jalur kehidupan.

Masa Brahmacarya ini amatlah penting artinya bagi remaja. Pada masa inilah berlaku apa yang disebut dengan memanusiakan manusia. Penguasaan ilmu pengetahuan merupakan syarat mutlak bagi manusia Hindu. Betapa mutlaknya syarat–syarat itu tercantum pada Bhagawadgita IV. 33 sebagai berikut:

”Srayan dranyamayad yajnaj.

Jnanayajnah paramtapa

Sarvam kauma khidom partha

Jarane perisamapyate”.

Artinya :

Persembahan berupa ilmu pengetahuan, wahai Arjuna, lebih mulia dari pada persembahan materi; dalam keseluruhannya semua kerja ini akan mendapatkan apa yang diinginkan dalam ilmu pengetahuan, wahai Parta (Pudja, 1999: 126).

Sloka 36 sebagai berikut:

“Api ched asi papebhyah

Sauvebhyah papa krittamah

Sauvam javanaplavemi’na

Urijinam samsavishyasi”.

Artinya :

Walau seandainya engkau paling berdosa diantara manusia yang memikul dosa; dengan perahu ilmu pengetahuan ini, lautan dosa akan engkau seberangi (Pudja, 1999: 127).

Selanjutnya pada Sloka 40 dikotakan sebagai berikut:

“Ajnas cha’sraddadhanas cha

Samsayatma vinasyati

Na’yan ioko’sti na paru

Na sukham samsayatmanah”.

Artinya :

Tetapi mereka yang dungu dan tidak percaya dan bersifat ragu, akan hancur binasa; baginya tiada ada kebahagiaan, tak ada dunia ini, demikian juga tak ada dunia di sana (Pudja, 1999: 127-128).

(Teguh Samiadi, adalah salah satu staff pengajar pada STAH Lampung).

 

Tags: , , , ,

 
 
 
:)